Langit malam di Yogyakarta selalu punya cerita. Malam itu, Devan duduk sendirian di beranda rumah mereka di Sleman, menatap layar laptop yang menyala redup. Matanya sudah pedih, jarinya berhenti mengetik. Di sampingnya, segelas kopi dingin yang sudah lama tidak disentuh. Di tangannya, selembar kertas berisi rumus-rumus yang seharusnya mengubah dunia—setidaknya, itu yang ia bayangkan.
“Kak,” suara Devan memecah keheningan. Ia berdiri di pintu, wajah lelahnya tersiram cahaya bulan. “Belum tidur? Tanya Myesha”
“Tidak bisa,” Devan menjawab, suaranya serak. “Aku masih berpikir tentang ini.”
Devan berjalan mendekat, duduk di samping kakaknya. Ia menatap layar laptop—sebuah program Python yang sudah berjalan selama tiga hari penuh, mencoba menyelesaikan perhitungan yang tidak mungkin. Kode itu seharusnya menghitung sesuatu yang luar biasa, sesuatu yang disebut “Galactic Algorithm.”
“Apa itu sebenarnya, Dek?” tanya Myesha, menatap layar. “Kenapa kamu terlihat seperti orang kehilangan sesuatu?”
Devan tertawa pahit. “Galactic Algorithm, Kak. Algoritma yang… baik secara teori, tapi tidak pernah bisa digunakan di dunia nyata. Seperti… seperti membangun roket ke Mars hanya untuk ke pasar terdekat.”
Myesha mengerutkan dahi. “Kalau tidak bisa digunakan, buat apa dibuat?”
“Ini lah rumitnya,” Devan menghela napas. “Aku tidak tahu lagi.”
Chapter 1: Mimpi di Bintang
Semuanya dimulai tiga bulan lalu, ketika Devan pertama kali membaca artikel tentang “Galactic Algorithms” di sebuah blog tentang teori komputasi. Artikel itu ditulis oleh seseorang bernama Lipton, menjelaskan tentang algoritma yang sangat menakjubkan dalam asymptotic behavior, tapi tidak pernah digunakan untuk menghitung apapun secara nyata.
Bagi Devan, saat itu adalah momen seperti orang menemukan cahaya di kegelapan. Ia sedang mencari sesuatu yang besar, sesuatu yang bisa membuatnya berbeda dari developer lainnya. Ia selalu merasa kecil di antara ribuan programmer yang bisa menulis kode dengan lebih cepat, lebih bersih, lebih baik. Tapi teori—teori adalah dunianya sendiri. Di sana, ia bisa menjadi arsitek dari sesuatu yang belum pernah ada.
“Kak, kakak harus baca ini,” katanya pada Myesha saat itu, matanya bersinar-sinar seperti menemukan harta karun. “Ada algoritma untuk menyelesaikan game theory dalam waktu yang sangat cepat. Bayangkan! Setiap permainan punya solusi, dan kita bisa menemukannya!”
Myesha, yang saat itu sedang struggle dengan tugas akhir-nya di teknik informatika, hanya melihat sekilas. “Lalu?”
“Lalu… baiklah, secara teknis memang tidak mungkin dijalankan dengan data nyata. Tapi secara teori! Secara teori ini luar biasa!”
Myesha mengangkat bahu. “Terus apa gunanya?”
Devan tidak menjawab. Ia sudah terburu-buru membuka laptop, mulai menulis kode Python pertama kalinya untuk mengimplementasikan algoritma itu. Bagi Devan, ini adalah awal dari sesuatu yang besar. Sebuah awal yang ia harapkan akan membawanya ke bintang-bintang.
Tapi ia tidak tahu, perjalanan ke bintang kadang melalui kegelapan yang paling dalam.
Chapter 2: Bintang Pertama yang Padam
Devan bekerja selama berminggu-minggu. Tidurnya berkurang, mangkannya tidak teratur. Ia menghabiskan waktu di perpustakaan, membakar malam untuk memahami setiap detail dari algoritma yang ia pilih—Nash Equilibrium algorithm yang ditulis oleh Markakis, Mehta, dan Lipton sendiri.
“Ini dia,” katanya pada Myesha suatu malam, menunjukkan layar laptop dengan bangga. “Aku sudah membuatnya berjalan!”
Devan melirik layar. Kode Python itu panjang, kompleks, dengan decorator dan fungsi-fungsi yang saling memanggil. Ia tidak banyak mengerti tentang algoritma game theory, tapi ia bisa merasakan kegembiraan adiknya.
“Coba tes dengan data sederhana,” sarannya.
Devan mengangguk, merasa percaya diri. Ia membuat skrip untuk mengetes algoritma itu dengan permainan sederhana—seperti batu-gunting-kertas, atau situasi di mana dua orang harus memilih antara cooperate atau betray.
Hasilnya? Tidak ada. Programa hanya hang, cursor berkedip-kedip seperti jantung yang berhenti.
“Kenapa tidak keluar?” tanya Myesha.
Devan memeriksa kode. Ia menambahkan print statement untuk debugging. Ia menunggu. Satu menit. Dua menit. Sepuluh menit.
“Ada yang salah,”bisiknya, suaranya mulai bergetar.
Ia memeriksa kembali—ternyata, waktu berjalan yang dibutuhkan untuk menyelesaikan permainan sederhana saja sudah mencapai lebih dari satu jam. Untuk satu! Hanya satu permainan sederhana!
“Apa yang terjadi?” Myesha bertanya, tapi Devan sudah tidak mendengar. Ia terlalu sibuk memeriksa complexity—dan di situlah ia menemukan kebenaran yang menyakitkan.
Waktu berjalan adalah n^{c log n / ε^2}. Di mana n adalah jumlah strategi, dan ε adalah akurasi yang diinginkan.
“Astaga,” Devan berbisik, matanya membulat. “Bahkan untuk nilai n yang sangat kecil,ini sudah tidak mungkin.”
Ia mencoba dengan n=10 dan epsilon=0.1. Hasilnya—program berjalan selama 47 jam sebelum ia force quit.
“Devan, apa kamu baik-baik saja?” Myesha bertanya, menyentuh bahu kakaknya.
Tapi Devan tidak menjawab. Ia hanya menatap layar, mempertanyakan semua yang ia ketahui tentang computer science. Bagaimana mungkin sesuatu yang secara teori begitu indah, bisa menjadi begitu mustahil dalam praktiknya?
Chapter 3: Air Mata di Tengah Malam
Malam itu, Devan menangis untuk pertama kalinya sejak ia SMA. Ia menangis bukan karena kegagalan, tapi karena realize bahwa semua yang ia kerjakan selama berminggu-minggu—semua usaha, semua pengorbananya sia-sia. Setidaknya, itu yang ada di pikirannya.
Ia ingat malam-malam ketika ia tidak tidur karena menyelesaikan bug di sistem kantin kampus. Ia ingat hari-hari ketika ia melewati makan siang hanya untuk menyelesaikan project deadline. Ia ingat bagaimana ia turn down hangout dengan teman-teman hanya untuk fokus pada “Galactic Algorithm” ini.
Dan sekarang? Sekarang ia mengerti mengapa orang-orang di bidang teori menyebutnya "galactic" — karena mereka hanya hidup di antara bintang-bintang, tidak pernah turun ke bumi.
Devan menemukan kakaknya di sudut kamar, kedua tangan di wajah, tubuh bergoyang pelan. Ia tidak mengatakan apapun—justru duduk di samping Myesha, memeluknya dari samping.
“Dik,”bisiknya, “tidak apa-apa.”
“Tidak apa-apa?” Devan mengangkat kepalanya, matanya merah. “Aku sudah menghabiskan seluruh waktuku untuk ini! Untuk algoritma yang tidak bisa dijalankan! Untuk kode yang hanya bisa dijalankan di fantasy!”
“Mungkin… mungkin ada gunanya,” Myesha berkata, suaranya tidak yakin. “Mungkin bukan untuk sekarang. Tapi…”
“Tapi apa?” Devan memotong. “Tapi untuk masa depan? Tapi ketika computer sudah lebih cepat? Tapi ketika seseorang yang lebih pintar datang dan membuat sesuatu yang lebih baik?”
Myesha diam. Ia tidak punya jawaban.
“Ingat artikel itu, Dek,” Meysha melanjutkan, suaranya penuh kesedihan. “Contoh-contoh yang disebut di sana—Quantum Factoring, Graph Minors, Matrix Product—semua itu adalah galactic algorithms. Mereka semua luar biasa secara teori. Tapi tidak ada yang benar-benar digunakan.”
“Lalu… lalu kenapa orang-orang tetap membuatnya?”
Meysha tertawa pahit. “Karena mereka ingin menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar. Mereka ingin membuktikan bahwa itu mungkin. Meskipun…” ia berhenti, suaranya menurun, “…meskipun tidak ada yang akan pernah melihat hasilnya.”
Keheningan mengisi kamar. Di luar, suara jangkrik bernyanyi—malam di Sleman selalu seperti itu, tenang dan dingin.
“Apa yang akan kamu lakukan sekarang?” Myesha akhirnya bertanya.
Devan mengusap air matanya. Ia berdiri, berjalan ke jendela. Di luar, langit malam Yogyakarta tertutup awan, tidak ada satu bintang pun yang terlihat.
“Aku tidak tahu,” akunya. “Tapi mungkin… mungkin aku harus mencoba sesuatu yang berbeda.”
Chapter 4: Kemarahan yang Meledak
Dua minggu setelah malam itu, Devan kembali ke project dengan semangat baru. Ia menolak untuk menyerah. Jika galactic algorithm pertama tidak berhasil, mungkin ia bisa menemukan yang lain—yang mungkin sedikit lebih dekat dengan kenyataan.
Ia menemukan implementasi algoritma sorting dari Ajtai, Komlós, dan Szemerédi — sorting network dengan O(log n) depth dan O(n log n) size. Secara teori, ini adalah terobosan besar, solusi untuk masalah yang sudah puluhan tahun dicari.
“Tapi ini berbeda,” pikir Devan. “Ini sorting—sudah pasti ada gunanya. Semua orang butuh sorting.”
Ia menghabiskan waktu weekend untuk mengimplementasikan algoritma ini dalam Python. Kode-nya kompleks, dengan network of comparators yang saling terhubung. Tapi kali ini, Devan pastikan untuk menguji dengan data nyata—array dengan 100, 1000, bahkan 10.000 elemen.
Hasil pertama—dengan 100 elemen—sempurna. Sorting selesai dalam beberapa milidetik. Devan bersorak!
Hasil kedua—dengan 1000 elemen—masih baik, tapi mulai terasa lambat. Devan abaikan.
Hasil ketiga—dengan 10.000 elemen—program crash dengan memory error.
Devan memeriksa—ternyata algoritma ini membutuhkan memori yang sangat besar. Untuk n=10.000, membutuhkan hampir 8GB RAM. Untuk n=100.000, akan membutuhkan lebih dari 800GB.
“Lagi,” bisiknya, jari-jarinya gemetar. “Lagi.”
Ia mencoba dengan matrix multiplication algorithms — Strassen dan Coppersmith-Winograd. Hasilnya sama. Secara teori, mereka lebih cepat dari metode standar. Dalam praktiknya? Konstanta tersembunyi sangat besar sehingga untuk ukuran matriks yang reasonable, metode standar masih lebih baik.
“Sudahlah,” kata Devan pada dirinya sendiri, tangan mulai gemetar. “Sudahlah, cukup.”
Tapi kemudian ia membaca lebih dalam—dan menemukan sesuatu yang membuat darahnya mendidih.
Ada orang-orang yang menulis paper tentang algoritma-algoritma ini, mempublish di conferences ternama, dapat funding penelitian, menjadi professor. Dan mereka tahu! Mereka tahu bahwa algoritma mereka tidak akan pernah digunakan! Tapi mereka tetap menulis paper, tetap mempresentasikan, tetap menerima applause seolah-olah mereka menemukan sesuatu yang berguna.
“Ini tipu daya!” Devan memekak, meninju meja. “Ini semua tipu daya! Mereka hanya mencari glory untuk diri sendiri, tidak peduli apakah algoritmenya berguna atau tidak!”
Myesha, yang kebetulan berada di kamar, terkejut melihat kemarahan adiknya. “Devan…”
“Mereka berbohong!” Devan melanjutkan, suaranya semakin keras. “Mereka bilang ini penting! Mereka bilang ini akan mengubah dunia! Tapi semua ini hanya… hanya…!”
Ia tidak bisa menyelesaikan kalimatnya. Kemarahan itu terlalu besar, terlalu mentah. Ia merasa dikhianati—oleh komunitas akademis, oleh orang-orang yang seharusnya menjadi idolanya, oleh seluruh sistem yang memreward sesuatu yang tidak berguna.
“Dek….,” Meysha mencoba menenangkan. “Mungkin… mungkin ada yang salah dengan caramu melihat ini.”
“Apa?” Devan berbalik, matanya menyala. “Apa yang salah?”
Myesha menelan ludah. “Aku… aku tidak tahu. Tapi… tapi mungkin mereka tidak bermaksud jahat. Mungkin… mungkin mereka hanya belum menemukan cara membuatnya berguna.”
Devan terdiam. Kemarahannya perlahan mereda, digantikan oleh kelelahan yang lebih dalam.
“Mungkin,” akhirnya ia berkata, suaranya datar. “Tapi itu tidak membuat aku kurang marah.”
Chapter 5: Penemuan di Balik Kegagalan
Seminggu setelah ledakan kemarahan itu, Devan duduk di sebuah cafe di kaliurang, Yogyakarta. Di hadapannya duduk Myesha—yang kali ini datang tidak untuk menghibur, tapi untuk sesuatu yang berbeda.
“Aku punya ide,” kata Myesha, matanya berbinar. “Tapi kamu harus dengar dulu.”
Devan mengangkat alis. “Ide? Ide apa?”
“Ingat yang kamu ceritakan tentang galactic algorithms—tentang bagaimana mereka tidak berguna sekarang, tapi bisa berguna di masa depan?”
“Ya, dan?”
“Nah, aku punya projek dari kampus. Kita harus buat sistem yang bisa memprediksi maintenance untuk mesin di pabrik tahu. Jadi… aku berpikir, apakah kita bisa menggunakan salah satu dari algoritma ini?”
Devan tertawa pahit. “Untuk maintenance mesin? Kamu gila.”
“Mungkin,” Myesha mengangkat bahu. “Tapi dengar dulu. Aku baca tentang algoritma Graph Minor dari Robertson-Seymour —yang katanya bisa menyelesaikan masalah minor closed family dalam polynomial time. Meskipun secara praktis galactic, ada yang bilang mungkin bisa digunakan untuk masalah seperti verifikasi compatibility dalam sistem yang kompleks.”
Devan terdiam. Ia tidak tahu kakaknya sudah melakukan riset sendiri.
“Dan terus terang,” Myesha melanjutkan, “sistem manufacturing itu kompleks. Ada ribuan komponen, interkoneksi yang rumit. Mungkin… mungkin galactic algorithm yang tepat bisa membantu.”
“Tapi itu tidak masuk akal,” Devan protes. “Kamu tahu constants-nya berapa? David Johnson sendiri pernah bilang, untuk instance yang muat di alam semesta yang diketahui, orang akan lebih suka |V|^70 dari pada constant time—kalau konstantanya harus dari Robertson-Seymour.”
“Myesha tersenyum. “Tapi itu dulu. Sekarang, komputer sudah lebih cepat. Dan masalahnya bukan soal| V|^70, tapi soal apakah kita benar-benar perlu memeriksa semua kombinasi.”
Devan diam sejenak. Ini pertama kalinya seseorang—selain dirinya—berusaha menemukan kegunaan dari galactic algorithm yang ia anggap tidak berguna.
“Jadi… bagaimana implementasinya?” akhirnya ia bertanya, suaranya penuh skeptisisme.
Myesha mengeluarkan laptopnya. Layar menunjukkan beberapa kode Python—ringkas, berbeda dari yang Devan bayangkan.
“Aku tidak mencoba mengimplementasikan algoritma penuh,” jelas Myesha. “Aku hanya mencoba menggunakan prinsipnya—bahwa ada cara untuk memeriksa hubungan antar komponen tanpa memeriksa semua kombinasi. Aku tidak tahu apakah ini akan berhasil, tapi…”
” Tapi apa?”
“Tapi ini pertama kalinya aku merasa tertarik dengan teori,” Myesha mengakui. “Karena kamu, karena cerita-cerita kamu tentang galactic algorithms. Meskipun mereka tidak berguna—mereka membuat aku berpikir tentang hal-hal yang berbeda.”
Devan menatap kakaknya dengan cara yang berbeda. Untuk pertama kalinya, ia melihat sesuatu di mata Myesha—Seperti cahaya yang sama yang ia rasakan sendiri dulu, ketika pertama kali membaca tentang galactic algorithms.
“Yuk,” akhirnya Devan berkata, mendorong laptop-nya ke arah Myesha. “Coba tunjukkan apa yang sudah kamu kerjakan.”
Chapter 6: Bintang Baru di Langit Yogyakarta
Bulan-bulan berikutnya adalah yang paling produktif dalam hidup Devan—dan juga paling menyakitkan. Ia dan Myesha bekerja bersama, kadang berdebat sampai larut malam, kadang terdiam dalam keheningan karena terlalu fokus.
Mereka tidak berhasil mengimplementasikan galactic algorithm yang asli—itu mustahil, seperti yang Devan sudah ketahui. Tapi mereka menemukan sesuatu yang lebih berharga: sebuah pendekatan baru untuk masalah verifikasi compatibility yang mengadaptasi prinsip-prinsip dari Graph Minor theorem, meskipun tidak secara literal.
Kode mereka tidak sempurna. Constantanya masih besar, masih ada bug yang harus diperbaiki. Tapi itu berhasil—setidaknya untuk sekala yang mereka butuhkan di projek kampus Myesha.
“KAK…..” suara Devan memecah keheningan studio. “IT WORKS! It actually works!”
Devan berlari dari kamarnya, jantung berdegup kencang. Di layar laptop Devan, sebuah dashboard menunjukkan hasil verifikasi untuk 500+ komponen mesin—yang sebelumnya membutuhkan waktu 12 jam untuk dihitung dengan metode brute force, sekarang selesai dalam 47 menit.
“Itu… itu bukan galactic algorithm yang sebenarnya,” Devan berkata, suaranya bergetar. “Tapi…”
“Tapi itu mengadaptasi prinsipnya,” Myesha memotong, matanya basah oleh air mata—air mata happiness. “Kita mengambil sesuatu yang tidak mungkin, dan mengubahnya menjadi mungkin. Itu… itu bukan artinya?”
Devan tidak bisa menjawab. Ia hanya memeluk kakaknya, perasaan campur aduk yang tidak bisa diungkapkan dalam kata-kata.
Mereka tidak menemukan yang tidak mungkin. Tapi mereka menemukan bahwa bahkan dari algo yang tidak mungkin, bisa lahir sesuatu yang berguna—bukan karena algorithm itu sendiri, tapi karena cara kita melihatnya, cara kita mengadaptasinya.
Epilog: Bintang Tidak Harus Dicapai
Setahun kemudian, Devan berdiri di panggung sebuah conference di Jakarta. Ia tidak sengaja diundang untuk presentasi tentang “ Galactic Algorithms in Practice”—ironis, mengingat bertahun-tahun lalu ia pikir itu semua tidak berguna.
“Pertama-tama,” katanya ke audience, suaranya tidak terlalu percaya diri seperti dulu, “saya ingin menceritakan tentang adik saya.”
Ia ceritakan semuanya—tentang malam-malam penuh air mata, tentang kemarahan, tentang kegagalan. Tentang bagaimana ia pikir galactic algorithms adalah tipu daya, tapi kemudian menemukan bahwa mereka adalah sumber inspirasi yang tidak terbatas.
“Galactic algorithms tidak berguna untuk sekarang,” tutupnya. “Tapi mereka mengingatkan kita bahwa ada lebih banyak hal di langit selain yang bisa kita lihat. Dan kadang, untuk mencapai yang berguna, kita perlu mulai dari yang terlihat tidak mungkin.”
Di audience, Myesha duduk di barisan depan, tersenyum. Di tangannya, selembar kertas—draft paper untuk research terbaru mereka, yang mengadaptasi prinsip galactic algorithm untuk sistem maintenance prediktif.
Devan melirik ke arah kakaknya, dan mereka bertukar pandang. Tidak ada kata yang perlu diucapkan. Mereka sudah mengerti.
Bintang-bintang tidak harus dicapai—terkadang, mereka hanya perlu dilihat. Dan dari sana, kita menemukan jalan kita sendiri untuk pulang.
# Contoh sederhana dari prinsip yang Devan dan Myesha gunakan
#—bukan implementasi galactic algorithm yang sebenarnya,
# tapi pendekatan yang terinspirasi olehnya
def check_compatibility_smart(components, relations, limit):
"""
Menggunakan prinsip graph analysis untuk memeriksa
kompatibilitas tanpa memeriksa semua pasangan.
"""
# Ini bukan implementasi asli—hanya ilustrasi dari konsep
processed = set()
for component in components:
if len(processed) >= limit:
break
# Periksa hanya komponen yang relevan secara teoritis
relevant = [c for c in components if is_relevant(component, c, relations)]
processed.add(component)
for rel in relevant:
if not check_direct(component, rel):
yield (component, rel)
def is_relevant(a, b, relations):
"""Pemeriksaan awal yang terinspirasi dari prinsip graph minor"""
# Menggunakan teori untuk membatasi ruang pencarian
return relations.get(a, []) or relations.get(b, [])
# Dengan pendekatan ini, Devan dan Myesha berhasil mengurangi
# waktu komputasi dari O(n^2) menjadi mendekati O(n log n)
# untuk kasus tertentu—bukan karena menggunakan algoritma
# galactic, tapi karena berpikir seperti mereka.