Bab 1: Kesunyian Layar Kaca
Cahaya dingin dari layar laptop 24 inci adalah satu-satunya sumber penerangan di kamar Myesha yang sengaja dibuat temaram. Di luar, langit Jakarta sudah berubah dari oranye keunguan menjadi gelap pekat, namun bagi Myesha, waktu seolah berhenti di dalam dunia balok-balok digital Roblox yang terhampar di hadapannya. Avatar-avatar lain berlarian, melompat, dan berinteraksi dalam sebuah permainan role-playing fantasi populer bernama “Aetheria Chronicles”. Myesha, dengan avatarnya yang bernama “Moonshadow”, hanya duduk termenung di atas atap sebuah kastil virtual, memandangi dua bulan kembar yang menggantung di langit digital. Ironisnya, di tengah keramaian server yang penuh dengan ratusan pemain, ia merasa lebih kesepian dari sebelumnya. Gema tawa teman-temannya dari grup WhatsApp yang ramai membicarakan acara sekolah besok terdengar dari ponselnya, notifikasi yang sengaja ia bisukan. Suara-suara itu terasa seperti siaran dari frekuensi lain, dari planet lain yang tak lagi ia huni. Dunianya ada di sini, di Aetheria, sebuah dunia yang memberinya pelarian, namun kini juga memberinya sebuah kekosongan yang aneh. Ia bukan lagi sekadar pemain. Gelar “Pemain Top” atau item langka yang berhasil ia kumpulkan tak lagi memberinya percikan kebahagiaan. Kekosongan itu adalah sebuah hasrat yang membara untuk mencipta. Ia lelah menjadi turis di dunia orang lain; ia ingin menjadi arsitek dunianya sendiri. Ia membayangkan bisa mendesain pedang legendarisnya sendiri, bukan hanya membelinya dari toko dalam game. Ia bermimpi menciptakan sebuah desa tersembunyi di balik air terjun, lengkap dengan karakter-karakter NPC yang memiliki cerita dan kepribadian unik. Mimpi-mimpi itu terasa begitu nyata di benaknya, namun begitu mustahil saat ia kembali menatap layar.
Pintu kamarnya berderit pelan, sebuah suara yang sudah sangat ia kenal polanya. Sosok ibunya berdiri di ambang pintu, membawa segelas susu hangat. Wajahnya yang biasanya ceria kini menyiratkan kekhawatiran yang sama seperti malam-malam sebelumnya. “Myesha, sudah jam sepuluh malam. Matanya jangan dipaksa terus, Nak. Besok kan sekolah,” tegur ibunya, suaranya lembut namun sarat akan ketidaksetujuan.
“Sebentar lagi, Bu. Aku lagi cari inspirasi,” jawab Myesha, suaranya pelan, hampir seperti bisikan. Ia cepat-cepat menutup jendela game dan membuka tab lain yang berisi dokumentasi Roblox API, seolah-olah itu bisa meyakinkan ibunya.
“Inspirasi apa dari permainan seperti itu?” Ibunya melangkah masuk, meletakkan gelas susu di meja belajar Myesha yang penuh dengan coretan desain karakter dan denah dunia imajiner. “Lihat teman-temanmu, Rina baru menang lomba debat, Adi ikut tim basket. Mereka membangun portofolio untuk masa depan. Ibu hanya tidak mau kamu tertinggal, membuang-buang waktu berhargamu untuk sesuatu yang…” Ibunya berhenti sejenak, mencari kata yang tepat, “…tidak nyata.”
“Ini nyata, Bu,” sela Myesha, kali ini dengan nada yang sedikit lebih tegas. Ia memutar kursinya menghadap sang ibu, matanya berkaca-kaca. “Membuat game itu nyata. Ada pemrogramannya, ada desainnya, ada seninya. Orang-orang bisa menghasilkan uang dari sini. Ini bisa jadi karier. Ini bisa jadi masa depanku.”
Ibunya menghela napas panjang, sebuah helaan napas yang terasa seperti badai kecil di kamar Myesha yang sunyi. “Ibu mengerti kamu suka ini, tapi ini dunia yang sangat kompetitif dan tidak pasti, Nak. Ayah dan Ibu bekerja keras supaya kamu bisa punya masa depan yang stabil. Jadi dokter, insinyur, atau ekonom. Sesuatu yang jelas jenjang kariernya. Ibu hanya ingin yang terbaik untukmu.”
“Tapi apakah yang terbaik menurut Ibu itu yang terbaik untukku?” Pertanyaan itu lolos begitu saja dari bibir Myesha, lebih tajam dari yang ia maksudkan.
Raut wajah ibunya berubah. Ada kilat kekecewaan di matanya. “Jaga bicaramu, Myesha. Ibu melakukan ini semua untukmu.” Tanpa berkata-kata lagi, ibunya berbalik dan meninggalkan kamar, menutup pintu dengan pelan namun tegas. Keheningan yang ditinggalkannya terasa seribu kali lebih berat daripada kebisingan game mana pun. Gelas susu di meja seolah mengejeknya, sebuah simbol kepedulian yang tak sejalan dengan pengertian. Air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya tumpah. Bukan karena marah, tapi karena campuran rasa frustrasi, sedih, dan rasa bersalah. Ia tahu ibunya menyayanginya, tapi rasa sayang itu terasa seperti sangkar emas yang indah namun membatasi. Malam itu, di tengah isak tangis yang ia redam dengan bantal, Myesha membuat sebuah janji pada dirinya sendiri. Ia tidak akan membiarkan mimpinya mati. Ia akan belajar, ia akan berjuang, dan ia akan membangun sesuatu yang begitu nyata hingga tak seorang pun, bahkan ibunya, bisa menyangkalnya.
Bab 2: Tembok Pesan Eror yang Menjulang
Keesokan harinya, dengan mata sembap namun hati yang membara, Myesha memulai perang salibnya. Medan perangnya adalah Roblox Studio, sebuah perangkat lunak yang seketika membuatnya merasa seperti seorang prajurit rendahan yang dilempar ke tengah markas komando musuh tanpa peta. Ratusan tombol dengan ikon-ikon misterius, jendela-jendela yang bisa digeser dan diubah ukurannya, panel Explorer yang menampilkan hierarki objek yang membingungkan, dan panel Properties yang berisi daftar panjang atribut untuk setiap objek—semuanya terasa seperti sebuah bahasa rahasia yang sengaja dirancang untuk mengucilkannya. Ia membuka sebuah video tutorial di YouTube berjudul “Roblox Scripting for Beginners - Episode 1: Your First Script”. Sang kreator video, dengan suara yang ceria dan penuh percaya diri, menjelaskan konsep variabel dan fungsi dalam waktu kurang dari sepuluh menit, membuatnya tampak semudah membuat mi instan.
Myesha mencoba mengikuti. Ia membuat sebuah Part baru, sebuah balok abu-abu sederhana. Tujuannya: membuat balok itu bersinar saat disentuh. Ia mengetik baris demi baris kode Lua ke dalam jendela skrip, meniru persis apa yang ada di video. Namun, saat ia menekan tombol “Run”, tidak ada yang terjadi. Ia menekan “Play”, menggerakkan avatarnya untuk menyentuh balok itu, dan tetap tidak ada yang terjadi. Tidak ada pesan eror, tidak ada perubahan apa pun. Hanya keheningan digital yang menyakitkan. Ia membandingkan skripnya dengan yang ada di video, huruf demi huruf. Semuanya sama persis. Ia menghabiskan dua jam hanya untuk menyadari bahwa ia lupa menempatkan skrip di dalam Part yang benar. Saat ia berhasil memperbaikinya dan balok itu akhirnya bersinar, rasa lega yang ia rasakan begitu singkat, karena tantangan berikutnya sudah menanti.
Perjuangannya tidak hanya di dunia kode. Ia mencoba peruntungannya di Blender, perangkat lunak 3D modeling gratis yang direkomendasikan banyak developer. Ia ingin membuat pedang kristal seperti yang ia lihat di Aetheria Chronicles. Setelah menonton tutorial selama tiga jam tentang modeling, sculpting, UV unwrapping, dan texturing, ia mencoba membuat modelnya sendiri. Hasilnya adalah sebuah objek bergerigi yang lebih mirip mentimun penyok daripada pedang. Ia mencoba lagi, dan kali ini hasilnya lebih mirip pisang gepeng. Rasa frustrasi mulai membakar semangatnya. Bagaimana bisa orang-orang di internet membuat karya seni yang begitu indah, sementara ia bahkan tidak bisa membuat bentuk dasar yang benar? Setiap kegagalan terasa seperti bisikan ibunya di telinganya: “Kamu hanya membuang-buang waktu.”
Puncak keputusasaannya datang seminggu kemudian. Ia mencoba membuat sebuah sistem pintu sederhana yang hanya bisa dibuka jika pemain memiliki keycard di dalam inventaris mereka. Konsep ini melibatkan beberapa skrip yang saling berinteraksi: satu skrip untuk keycard saat diambil, satu skrip di pintu untuk mendeteksi sentuhan, dan satu lagi untuk memverifikasi keberadaan keycard. Ia menghabiskan seluruh akhir pekannya untuk proyek ini. Malam demi malam ia begadang, ditemani puluhan tab browser yang terbuka, dari dokumentasi Roblox hingga utas forum yang sudah berumur lima tahun. Jendela output-nya dipenuhi dengan pesan eror berwarna merah yang seolah tak ada habisnya: Keycard is not a valid member of Player, attempt to index nil with 'Backpack', Infinite yield possible on 'Players:WaitForChild("Myesha")'.
Inilah salah satu skrip pintu yang membuatnya ingin menangis:
-- Script pintu yang salah total
local door = script.Parent
local keycardName = "Keycard"
door.Touched:Connect(function(hit)
local player = game.Players:GetPlayerFromCharacter(hit.Parent)
if player then
-- Kesalahan: Mencoba mengakses Backpack secara langsung dan asumsi selalu ada
local backpack = player.Backpack
local keycard = backpack:FindFirstChild(keycardName)
if keycard then
-- Kesalahan logika: Pintu hanya transparan sesaat
door.Transparency = 0.5
door.CanCollide = false
wait(2)
door.Transparency = 0
door.CanCollide = true
end
end
end)
Logikanya terasa benar di kepala Myesha, tapi dalam praktiknya, pintu itu tidak pernah terbuka. Terkadang skripnya crash, terkadang tidak terjadi apa-apa. Ia merasa otaknya sudah meleleh. Ia membanting punggungnya ke kursi, menatap tumpukan pesan eror di layar dengan pandangan nanar. Ia merasa bodoh, tidak kompeten, dan benar-benar sendirian. Di tengah keputusasaan itulah, ia teringat sebuah nama yang pernah disebut-sebut di sebuah grup Discord: sebuah forum developer Roblox dari Indonesia yang katanya cukup ramah untuk pemula. Dengan sisa-sisa harapan terakhir, ia memutuskan untuk menelan harga dirinya. Ia mengambil napas dalam-dalam, membuat akun, dan menulis sebuah postingan panjang yang merinci masalahnya, lengkap dengan semua skrip yang gagal. Ia merasa seperti seorang pasien yang memamerkan luka-lukanya di depan umum, berharap ada dokter yang mau menolong.
Bab 3: Jabat Tangan Digital Tiga Arah
Berjam-jam berlalu. Postingan Myesha tenggelam di antara topik-topik lain yang lebih canggih. Ia sudah hampir kehilangan harapan saat tiga notifikasi muncul hampir bersamaan. Tiga orang membalas utasnya. Yang pertama, seorang pengguna dengan nama “Devan”—yang tak lain adalah Devan, adiknya—memberikan jawaban yang singkat dan teknis. “Struktur logikamu salah. Kamu harus menggunakan RemoteEvent untuk komunikasi client-server yang aman agar tidak bisa dieksploitasi. Cek juga debounce untuk mencegah event Touched berjalan berkali-kali.” Jawaban itu benar, tapi terasa dingin dan membuat Myesha semakin merasa bodoh.
Balasan kedua datang dari Jovian, adik bungsunya, yang juga aktif di forum itu dengan nama pengguna yang berbeda. Balasannya lebih hangat dan bersahabat. “Hai Kak Myesha, jangan patah semangat! Masalah kayak gini itu makanan sehari-hari developer, hehe. Kak Devan ada benarnya soal RemoteEvent, tapi mungkin itu terlalu advance untuk sekarang. Coba kita perbaiki logikamu dulu. Kamu bisa pakai player.CharacterAdded untuk memastikan karakter sudah sepenuhnya dimuat sebelum skrip berjalan. Dan untuk debounce, kamu bisa pakai variabel boolean sederhana. Nih, aku coba perbaiki sedikit skrip pintumu.” Jovian menyertakan versi perbaikan dari skrip Myesha, dengan komentar-komentar yang menjelaskan setiap perubahan.
Balasan ketiga, dari pengguna yang tidak memakai nama asli, hanya berisi sebuah tautan ke video YouTube berjudul “The Ultimate Guide to Secure Doors in Roblox” dan sebuah kalimat: “Pelajari ini.”
Myesha merasa sedikit kewalahan, tapi juga tersentuh. Kedua adiknya, dengan cara mereka masing-masing, berusaha membantunya. Ia memutuskan untuk fokus pada balasan Jovian yang paling mudah ia cerna. Ia mempelajari skrip yang telah diperbaiki Jovian, mencoba memahami konsep “debounce” (sebuah saklar untuk mencegah kode berjalan berulang kali dalam waktu singkat) dan bagaimana cara memeriksa inventaris pemain dengan lebih aman.
-- Script pintu yang diperbaiki oleh Jovian
local door = script.Parent
local keycardName = "Keycard"
local isDebouncing = false -- Variabel untuk debounce
door.Touched:Connect(function(hit)
-- Cek debounce dan apakah yang menyentuh adalah bagian dari karakter pemain
if not isDebouncing and hit.Parent:FindFirstChild("Humanoid") then
isDebouncing = true -- Aktifkan debounce
local player = game.Players:GetPlayerFromCharacter(hit.Parent)
if player then
local backpack = player:WaitForChild("Backpack") -- Gunakan WaitForChild untuk keamanan
local keycard = backpack:FindFirstChild(keycardName)
if keycard then
print("Keycard ditemukan untuk pemain: " .. player.Name)
door.Transparency = 0.7
door.CanCollide = false
wait(3) -- Beri waktu lebih lama untuk lewat
door.Transparency = 0
door.CanCollide = true
end
end
wait(1) -- Cooldown sebelum event bisa dipicu lagi
isDebouncing = false -- Matikan debounce
end
end)
Dengan hati-hati, ia mengimplementasikan skrip baru itu. Ia menekan “Play”, mengambil keycard virtual, dan berjalan menuju pintu. Swoosh. Pintu itu menjadi transparan dan ia bisa melewatinya! Tiga detik kemudian, pintu itu kembali solid. Berhasil! Sebuah sorakan kecil lolos dari bibirnya. Perasaan kemenangan ini seratus kali lebih memuaskan daripada saat ia berhasil membuat balok berubah warna. Ia segera menulis balasan di forum, “BERHASIL! Terima kasih banyak, Jovian! Dan Devan juga, terima kasih sarannya, aku akan pelajari RemoteEvent setelah ini!”
Dari sanalah sebuah dinamika unik dimulai. Bekerja bersama kedua adiknya, Myesha merasa tidak lagi sendirian. Jovian, dengan sifatnya yang ceria dan sabar, menjadi mentor utamanya. Mereka sering melakukan sesi voice call di Discord, di mana Jovian akan dengan sabar menjelaskan konsep-konsep sulit menggunakan analogi-analogi aneh. “Anggap saja API itu kayak menu di restoran, Kak. Kamu nggak perlu tahu cara masaknya di dapur, kamu cuma perlu pesan ‘Nasi Goreng’ (memanggil fungsi), dan pelayannya (API) akan mengantarkannya ke mejamu,” jelasnya suatu malam. Devan, di sisi lain, jarang berbicara, tapi selalu muncul di saat yang tepat dengan solusi yang elegan dan efisien, seringkali mendorong sang kakak, Myesha, untuk mempelajari praktik terbaik industri. “Jangan biasakan pakai wait(). Pakai task.wait() yang lebih modern dan presisi,” tulisnya singkat di chat grup mereka. Interaksi mereka menjadi sebuah keseimbangan yang sempurna: Jovian memberinya fondasi dan semangat, sementara Devan memberinya tantangan untuk menjadi lebih baik.
Bab 4: Orkestrasi Percikan Kehidupan
Beberapa bulan berlalu. Di bawah bimbingan kedua adiknya, Jovian dan Devan, Myesha tidak lagi melihat Roblox Studio sebagai medan perang, melainkan sebagai taman bermainnya. Kepercayaan dirinya tumbuh seiring dengan kemampuannya. Ia sudah bisa membuat model 3D sederhana yang layak, memahami dasar-dasar arsitektur skrip, dan bahkan mulai berani bereksperimen dengan efek visual dan desain UI. Suatu malam, saat mereka bertiga—kakak beradik itu—sedang iseng bermain game bersama, Jovian, sang adik bungsu, melontarkan sebuah ide. “Kak Myesha, Kak Devan, daripada kita cuma mainin game orang lain, kenapa kita nggak bikin game kita sendiri? Sebuah proyek serius.”
Mata Myesha berbinar. Inilah momen yang ia tunggu-tunggu. Devan, dengan gayanya yang biasa, hanya menjawab singkat, “Boleh. Asal konsepnya menarik dan arsitekturnya benar.”
Mereka pun memulai sesi brainstorming yang panjang. Myesha, sebagai yang tertua dan memiliki jiwa seni, mengusulkan sebuah game petualangan dengan dunia fantasi yang penuh warna dan cerita yang mendalam. Jovian, yang menyukai tantangan teknis, ingin membuat sistem pertarungan yang kompleks dan dinamis. Devan, sang arsitek, menekankan pentingnya fondasi yang kuat: modularitas kode, keamanan, dan optimisasi performa. Akhirnya, mereka sepakat untuk membuat sebuah prototipe kecil terlebih dahulu: bukan game utuh, melainkan sebuah “showcase” karakter. Mereka akan menciptakan satu karakter original yang sangat detail, lengkap dengan model, animasi, skill, dan efek visual yang memukau.
Myesha didapuk sebagai Art Director dan 3D Modeler. Inilah kesempatannya untuk menuangkan semua imajinasi liarnya. Ia menghabiskan waktu seminggu hanya untuk membuat sketsa dan concept art. Pilihannya jatuh pada sesosok ksatria wanita yang ia beri nama “Lyra the Sunstone Knight”. Desainnya rumit: baju zirah perak yang dipadukan dengan lempengan emas berukir matahari, sebuah jubah biru tua yang compang-camping di ujungnya, dan sebilah pedang raksasa yang terbuat dari kristal oranye yang seolah menyala dari dalam. Proses modeling di Blender terasa seperti maraton. Ia menghabiskan puluhan jam untuk membentuk setiap lekuk baju zirah, setiap helai rambut, dan setiap detail kecil pada gagang pedangnya. Proses rigging (pemberian tulang pada model) dan skinning (menghubungkan model dengan tulang) adalah mimpi buruk tersendiri, namun dengan bantuan tutorial yang dikirimkan Jovian, ia berhasil melewatinya.
Jovian mengambil peran sebagai Lead Scripter, fokus pada sistem pertarungan Lyra. Ia merancang sebuah sistem kombo yang memungkinkan pemain menggabungkan serangan ringan dan berat. Ia juga membuat tiga skill unik untuk Lyra: “Solar Flare”, sebuah serangan area yang menyilaukan musuh; “Sunstone Shield”, sebuah perisai cahaya yang bisa memblokir serangan; dan “Blade of Dawn”, sebuah serangan pamungkas di mana pedang Lyra akan membesar dan menyala terang. Devan, sebagai System Architect, tidak banyak menulis kode fitur, namun perannya sangat krusial. Ia membangun kerangka kerja (framework) untuk game mereka, sebuah sistem modular yang memungkinkan skrip-skrip yang ditulis Jovian bisa saling berkomunikasi secara efisien dan aman. Ia juga yang merancang bagaimana data pemain akan disimpan dan bagaimana efek visual akan di-render secara optimal agar tidak memberatkan game.
Kolaborasi mereka adalah sebuah orkestra digital. Myesha akan mengirimkan model Lyra yang sudah selesai di-animasikan. Jovian akan mengambil animasi tersebut dan mengintegrasikannya ke dalam skrip pertarungannya. Devan akan meninjau kode Jovian, memberikan saran perbaikan, dan memastikan semuanya berjalan sesuai dengan arsitektur yang telah ia rancang. Ada kalanya mereka berdebat sengit. Myesha ingin animasi serangan yang lebih flamboyan, namun Jovian khawatir itu akan membuat gameplay terasa lambat. Devan bersikeras menggunakan sebuah metode pemrograman yang lebih rumit demi performa, yang membuat Jovian harus belajar hal baru. Namun, setiap perdebatan selalu berakhir dengan solusi yang lebih baik. Mereka belajar untuk berkompromi, menghargai keahlian satu sama lain, dan bekerja sebagai satu unit yang kohesif.
Setelah dua bulan penuh kerja keras, begadang, tawa, dan perdebatan, hari itu akhirnya tiba. Semua elemen sudah menyatu. Model, animasi, skrip, efek suara, dan efek visual. Dengan jantung berdebar kencang, mereka bertiga masuk ke dalam sesi tes privat di Roblox Studio. Myesha menekan tombol “Play”. Avatarnya berubah menjadi Lyra the Sunstone Knight. Karakter itu berdiri gagah di tengah sebuah arena kosong yang mereka buat. Cahaya virtual dari lingkungan sekitar memantul dengan indah dari baju zirahnya yang berkilau. Myesha menggerakkan mouse, dan Lyra menoleh dengan mulus. Ia menekan tombol ‘W’, dan Lyra berlari dengan animasi yang penuh tenaga. Ia menekan tombol ‘klik’ kiri dua kali, lalu ‘klik’ kanan sekali. Lyra melakukan kombo serangan: dua tebasan pedang cepat diikuti sebuah tusukan kuat. Ia menekan tombol ‘Q’, dan Lyra menghantamkan pedangnya ke tanah, memunculkan ledakan cahaya “Solar Flare”. Semuanya bekerja. Sempurna. Melihat kreasinya hidup, bergerak, dan merespon perintahnya dengan begitu indah adalah sebuah perasaan magis yang membuat seluruh tubuhnya merinding. Ini bukan lagi sekadar model 3D atau tumpukan kode. Ini adalah sebuah jiwa digital, sebuah percikan kehidupan yang mereka ciptakan bersama dari nol.
Bab 5: Sebuah Awal yang Baru
Air mata haru mengalir tanpa bisa dicegah. Di voice call Discord, ia bisa mendengar sorakan gembira dari Jovian dan bahkan sebuah gumaman puas yang langka dari Devan. “Kerja bagus, tim,” kata Devan, singkat namun penuh makna. Momen itu terasa sureal. Semua rasa lelah, frustrasi, dan keraguan diri yang ia rasakan selama berbulan-bulan seolah terbayar lunas dalam sekejap. Ia telah melampaui mimpinya. Ia tidak hanya menciptakan sebuah karakter; ia telah membantu meniupkan kehidupan ke dalamnya.
Dengan bangga dan napas yang masih tersengal karena luapan emosi, ia menyimpan laptopnya dan berlari keluar kamar, menuruni tangga mencari ibunya. Ia menemukan ibunya sedang menonton televisi di ruang keluarga. “Bu, Ibu harus lihat ini! Sekarang!” ajaknya dengan antusiasme yang tak bisa disembunyikan.
Ibunya, yang sedikit terkejut, mengikutinya ke kamar dengan ekspresi yang merupakan campuran antara penasaran dan skeptis. “Ada apa sih, Nak? Heboh sekali.”
Myesha duduk di kursinya dan kembali mengontrol Lyra di layar. “Lihat, Bu. Ini yang aku, Jovian, dan Devan buat selama ini.” Ia mendemonstrasikan semua gerakan Lyra, semua kombo serangan, dan semua skill yang mereka rancang dengan susah payah. Ia menjelaskan bagaimana ia mendesain baju zirahnya, bagaimana Jovian memprogram setiap gerakannya, dan bagaimana Devan memastikan semuanya berjalan lancar.
Ibunya terdiam. Matanya yang biasanya hanya melihat sekilas kini terpaku pada layar. Ia tidak lagi melihat “kotak-kotak” atau “permainan anak-anak”. Ia melihat sebuah karya seni yang kompleks. Ia melihat detail ukiran pada baju zirah, partikel cahaya yang beterbangan saat Lyra menggunakan skill, dan bayangan dinamis yang mengikuti setiap gerakannya. Ia melihat sebuah produk yang jelas-jelas dibuat dengan keahlian, dedikasi, dan gairah yang luar biasa. Ia lalu menoleh pada putrinya, melihat binar kebanggaan dan pencapaian di mata Myesha yang begitu terang, sebuah binar yang belum pernah ia saksikan seumur hidupnya.
“Jadi… semua gerakan ini, semua detail ini… kamu yang ikut membuatnya?” tanya ibunya, nada suaranya kini dipenuhi kekaguman yang tulus.
Myesha mengangguk dengan semangat. “Iya, Bu. Aku yang desain dan buat model 3D-nya. Kedua adikku, Jovian dan Devan, yang membuat ‘otak’-nya. Ini namanya pengembangan game, Bu.”
Ibunya tersenyum, sebuah senyuman tulus yang menghangatkan hati Myesha. Ia mengelus rambut putrinya. “Maafkan Ibu ya, Nak. Selama ini Ibu sama sekali tidak mengerti. Ibu hanya takut kamu salah jalan. Tapi sekarang Ibu lihat… ini bukan sekadar hobi. Ini adalah bakat. Ini… ini luar biasa.”
Pelukan hangat yang diberikan ibunya setelah itu terasa lebih berharga daripada pujian dari developer paling terkenal sekalipun. Dinding kaca yang selama ini memisahkan mereka seolah runtuh. Untuk pertama kalinya, ibunya tidak hanya melihat apa yang ia lakukan, tapi juga memahami mengapa ia melakukannya. Malam itu, mereka menghabiskan waktu bersama, dengan Myesha yang antusias menjelaskan rencananya dan kedua adiknya untuk mengembangkan prototipe ini menjadi sebuah game utuh. Ibunya mendengarkan dengan penuh minat, sesekali melontarkan pertanyaan yang menunjukkan bahwa ia benar-benar mencoba untuk mengerti.
Keesokan harinya, Myesha, Jovian, dan Devan memutuskan untuk mengunggah video showcase Lyra ke YouTube dan membagikannya di forum developer Roblox. Respon yang mereka terima sungguh di luar dugaan. Dalam beberapa hari, video mereka ditonton ribuan kali. Komentar-komentar positif membanjiri. Para pemain memuji desain karakter yang unik, animasi yang mulus, dan sistem pertarungan yang terasa segar. Beberapa developer lain bahkan bertanya tentang teknik yang mereka gunakan. Seorang kreator konten Roblox terkenal bahkan membuat video reaksi, memuji proyek mereka sebagai salah satu prototipe paling menjanjikan yang pernah ia lihat.
Pengakuan dari komunitas itu adalah sebuah validasi yang menguatkan. Mereka bukan lagi tiga remaja yang iseng membuat game di kamar mereka. Mereka adalah sebuah tim developer. Perjalanan Myesha masih sangat panjang. Jalan di depan terbentang luas, penuh dengan tantangan baru, bug yang harus diperbaiki, dan fitur-fitur yang harus dipelajari. Tapi kini, ia tidak lagi merasa takut atau sendirian. Ia telah menemukan dunianya, timnya, dan yang terpenting, ia telah menemukan kepercayaan pada dirinya sendiri. Ia menatap layar laptopnya, bukan lagi dengan perasaan hampa, melainkan dengan semangat seorang arsitek yang siap membangun dunia baru. Ia adalah seorang kreator, seorang bintang yang cahayanya mulai bersinar terang di tengah semesta balok-balok digital yang tak terbatas. Dan ini, barulah sebuah awal.